Menyambut 1 Muharam 1433 H

Gelegar 1 Muharam sebagai awal Tahun Baru Islam memang tidak sedahsyat tahun baru Masehi 1 Januari. Tidak ada terompet yang beramai-ramai ditiup menjelang malam tahun baru, tidak juga ada konvoi motor atau mobil, tidak ada kembang api berharga hingga jutaan rupiah yang dibakar dan menghiasi langit malam tahun baru .. tidak ada hura-hura penghamburan uang, hanya untuk menyambut datangnya sebuah tahun, karena memang dalam konsep dan nilai Islam hal-hal yang bersifat mubadzir dan penghamburan sangat tidak diajarkan bahkan dilarang. Dinyatakan bahwa mereka yang suka mubadzir adalah termasuk ikhwanul syaithon, sahabat setan.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit umat Islam yang tidak mengenali kalender Hijriyahnya, tidak mengetahui, jika hari itu adalah Tahun Baru-nya Umat Islam. Suatu kondisi yang memprihatinkan memang. Padahal penetapan awal tahun baru Islam mengandung muatan da’wah yang luar biasa. Penetapan Tahun Baru Islam bukan berdasar pada tanggal lahir atau wafatnya Nabi. Khalifah Umar bin Khattab melihat peristiwa hijrah Rasul SAW sebagai tonggak pemisah antara masa jahiliyah yang gelap gulita dan alam islami yang terang benderang, yang pada akhirnya sejarah mencatat dengan tinta emasnya, kejayaan dan kecemerlangan kehidupan yang bertumpu pada syari’at atau hukum Islam, hingga menciptakan tata masyarakat adil, aman, sejahtera di kota Madinah. Satu konsep panutan yang sedang “ngetrend” akhir-akhir ini, yakni “masyarakat madani”
Suatu tatanan masyarakat yang menjadi idaman para pemimpin bangsa ini, suatu kondisi di mana para pemimpinnya begitu amanah terhadap kepemimpinannya, tidak suka korupsi, tidak selalu mementingkan urusan perutnya sendiri, yang segala sepak terjangnya selalu minta diimbali uang, pemimpin yang begitu mentaati hukum yang berlaku, begitu takut dengan pertanggungan jawaban dari apa yang dipimpinnya, tidak justru takut akan lepasnya jabatan atau kepemimpinan dari tangan mereka, yang telah dengan susah payah dia dapat, dengan berbagai upaya termasuk menyogok, sikut sana sikut sini, fitnah sana fitnah sini. Masyarakat yang rakyatnya senantiasa mentaati hukum, patuh dan taat pada pemimpinnya.

Peristiwa hijrah Rasul SAW dilatarbelakangi kondisi masyarakat Mekkah yang pada waktu itu sangat menolak menerima ajaran Islam.
Tantangan yang berat tapi dihadapi dengan tabah oleh Rasul SAW. Akhirnya beliau berdakwah ke kota/negeri lain di antaranya Thoif, Madinah, Habasyah, hingga beliau bertemu 12 orang dari suku Khojroz yang menerima ajaran Islam. Ke-12 orang ini setahun kemudian pada musim haji bertemu lagi dengan Rasul dan melakukan bai’at dan berikrar untuk Tidak : menyekutukan Allah, mencuri, berzina, berdusta dan mengkhianati Rasul. Pada musim haji berikutnya 72 orang dari suku Aus dan Khojroz bertemu lagi dengan Rasul SAW, mengundang beliau untuk ke Madinah, dan berbaiat yang kedua, berikrar setia dan membela Rasul dalam suka dan duka. Bai’at ini membawa dampak dan resiko yang berat, karena mereka harus siap menanggung resiko berhadapan dengan orang-orang dari Jazirah Arab.

Sejak Bai’at yang kedua (Bai’atuts Tsani) inilah hijrah ditetapkan atas kaum Muslimin dari kota Mekkah ke Madinah. Hijrah yang diwajibkan bagi mereka yang didzalimi dan mampu untuk berhijrah. Sebagian sahabat telah berhijrah lebih dulu, sampai akhirnya Rasul berhijrah belaka-ngan ditemani oleh sahabat Abu bakar As-Shidiq

Peristiwa hijrah Rasul yang kronologisnya seperti digambarkan di atas akhirnya diabadikan seba-gai awal tahun dalam kalender Islam (Hijriyah)

Sebagai muslim dalam menghadapi Tahun Baru Hijriyah yang bertepatan dengan tanggal 27 Nopember 2011 ini, hendaknya kita banyak bermuhasabah atau ber introspeksi diri tentang amal-amal kita di tahun sebelumnya yakni tahun 1432 H. Apakah amal kebaikan yang lebih banyak mewarnai derap langkah kaki perjalanan hidup kita, atau sebaliknya, banyak kemaksiatan dan pembangkangan terhadap perintah-perintah Allah yang lebih mewarnai kehidupan kita. Bila jawaban kita adalah pilihan yang terakhir, maka seharusnya kita segera bertaubat, berikrar dan bertekad untuk lebih baik dari sebelumnya. Bahwa kita akan berusaha melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjaga diri dari melaksanakan hal-hal yang dilarang Allah SWT. Kita harus optimis dan banyak berdoa semoga di tahun 1433 H ini kita tetap dan lebih mendapat hidayah dari Allah untuk selalu berbuat/beramal sholeh, selalu menyandarkan sendi-sendi kehidupan kita pada syari’at Islam(aturan Allah), pada Al-Qur’an dan pada sunnah Rasul. Dan Ingat ….. ! Kesempatan kita,  untuk mempersiapkan bekal kita di akhirat kelak, telah berkurang 1 tahun, dengan datangnya Tahun Baru Hijriyah tahun ini.

By pustakawancilacap Posted in Al-Islam

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s